Promo Haji Plus di Jakarta Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Promo Haji Plus di Jakarta Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA.

Promo Haji Plus di Jakarta

Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Saco- Indonesia.com — Aktor Michael Douglas membantah bahwa ia pernah mengatakan kanker tenggorokan yang dialaminya disebabkan karena seks oral.

Aktor Hollywood yang juga suami Catherine Zata-Jones ini beberapa waktu lalu mengatakan bahwa ia menderita kanker tenggorokan yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV), dan ditularkan ketika ia melakukan seks oral kepada perempuan.

Para dokter kemudian mempertanyakan perkataan Douglas tersebut. Karena itu aktor gaek ini buru-buru mencabut pernyataannya.

Juru bicara Michael Douglas, Allen Burry mengatakan bahwa Douglas tidak pernah mengatakan HPV sebagai penyebab kankernya. Douglas hanya mendiskusikan apa penyebab kanker mulut.

Ketika diwawancara oleh reporter harian Guardian, Inggris, Douglas mengatakan, "Tanpa bermaksud terlalu spesifik, kanker seperti ini biasanya disebabkan oleh HPV yang berasal dari aktivitas seks oral".

Dr Michael Brady, direktur medis kesehatan seksual Terrence Higgins Trust, mengatakan, meski seks oral bisa menyebabkan kanker, tetapi sangat sulit untuk menentukan satu jenis penyebab kanker.

Apalagi, menurut Brady, Douglas adalah perokok dan juga peminum, dua faktor yang lebih berkontribusi pada terjadinya kanker tenggorokan.

Michael Douglas berjuang melawan kanker sejak Agustus 2010 sampai Januari 2011. Pada masa tersebut ia mengatakan kebiasaan merokok dan minum alkohol yang pernah dilakoninya mungkin memicu kanker.

Namun, pada sebuah wawancara terbaru, aktor berusia 68 tahun ini mengatakan kanker yang dideritanya disebabkan oleh HPV. Douglas juga menyebutkan stres yang dialaminya karena memikirkan kelakuan anak sulungnya yang dipenjara akibat narkoba.

Brady menjelaskan ada ribuan jenis virus HPV dan pada kebanyakan kasus tidak berbahaya. Risiko virus ini memicu kanker tenggorokan juga kecil.

Tahun lalu Cancer Research Inggris menyebutkan ada peningkatan kasus kanker mulut dan tenggorokan yang terkait seks oral. WHO juga menyatakan HPV mungkin menyumbang 5 persen terjadinya kanker di seluruh dunia.

HPV bisa ditularkan antara pria dan wanita melalui kontak genital, terutama lewat seks vagina dan anal. Virus ini juga ditularkan lewat seks oral dan kontak antargenital.  

Douglas didiangosis menderita kanker tenggorokan stadium empat dan menjalani terapi intensif berupa kemoterapi dan radiasi. Saat ini dokter menyatakan kanker telah bersih dari tubuhnya, tapi ia diwajibkan melakukan pemeriksaan setiap 6 bulan.

 

Editor:Liwon Maulanan(galipat)

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua, juga mengatakan, bergabungnya Jumhur Hidayat ke PDIP hal yang wajar. Namun dia juga mengingatkan, jika Jumhur punya tanggung jawab moral sebagai Kepala BNP2TKI.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Max Sopacua, juga mengatakan, bergabungnya Jumhur Hidayat ke PDIP hal yang wajar. Namun dia juga mengingatkan, jika Jumhur punya tanggung jawab moral sebagai Kepala BNP2TKI.

"Untuk melarang tidak ada yang bisa, tapi dia juga punya tanggung jawab moral sebagai Kepala BNP2TKI di bawah Presiden SBY," kata dia.

Menurut Max, untuk bisa menjadi pejabat publik tidak tertutup kemungkinan bisa dari partai lain. Max menilai, Jumhur hijrah ke PDIP karena ada yang diincar. Selama ini, kata dia, Jumhur ngebet jadi menteri.

"Beliau cita-cita ingin jadi menteri, sekarang kan belum tercapai," terangnya.

Bergabung ke PDIP, salah satu strategi Jumhur untuk dapat mencapai cita-citanya itu. Persoalannya, lanjut dia, Jumhur juga punya tanggung jawab moral karena saat ini masih menjabat.

"Biarkan rakyat saja yang menilai. Untuk melarang tidak ada yang bisa karena itu hak politik dia," pungkasnya.

Frontline  An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.
Frontline

Frontline An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.

The program traces the outbreak to its origin, thought to be a tree full of bats in Guinea.

Review: ‘9-Man’ Is More Than a Game for Chinese-Americans

A variation of volleyball with nine men on each side is profiled Tuesday night on the World Channel in an absorbing documentary called “9-Man.”

Television

‘Hard Earned’ Documents the Plight of the Working Poor

“Hard Earned,” an Al Jazeera America series, follows five working-class families scrambling to stay ahead on limited incomes.

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Artikel lainnya »