Harga Umroh VIP November 2015 Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Harga Umroh VIP November 2015 Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA.

Harga Umroh VIP November 2015

saco-indonesia.com, Mendidik Anak Dengan Mainan Edukatif Bagi anak-anak, mainan adalah hal yang penting menarik dan banyak d

saco-indonesia.com,

Mendidik Anak Dengan Mainan Edukatif
Bagi anak-anak, mainan adalah hal yang penting menarik dan banyak dimiliki oleh teman-temannya yang lain. Karenanya, orang tualah yang juga harus pintar-pintar dalam memilih mainan    

mendidik anak dengan mainan edukatifMainan juga merupakan hiburan yang sangat menyenangkan bagi anak. Anak juga akan merasa terhibur dengan hadirnya mainan pada saat ia merasa bosan. Apalagi jika anak sedang ngambek, kalau diiming-imingi mainan pasti ngambeknya akan lupa.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, anak-anak pasti belum bisa untuk menentukan mainan mana yang baik untuk tumbuh kembangnya. Bagi anak-anak, mainan yang penting menarik dan banyak dimiliki oleh teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, orang tualah yang harus pintar-pintar memilih mainan mana yang baik untuk perkembangan anak. Mainan tidak hanya sebagai hiburan saja tetapi harus memiliki nilai edukatif bagi anak. Fungsinya agar anak bisa mendapatkan manfaat dari mainan tersebut yang bersifat mendidik.

Mainan edukatif adalah semua jenis permainan yang dibuat khusus untuk dapat memberikan pendidikan atau pengalan belajar kepada yang memainkan. Mainan yang sifatnya edukatif juga dapat membantu tumbuh kembang anak lebih cepat. Terutama pada anak usia balita yang pada masanya itu membutuhkan rangsangan motorik yang baik bagi perkembangan sosial maupun perkembangan lainnya.
Manfaat mainan edukatif bagi anak

    Mainan edukatif juga dapat membantu tumbuh kembang anak.
    Mampu untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan melatih kemampuan berbahasa anak
    Membantu anak dalam menciptakan inovasi dan sesuatu yang baru pada setiap permainan
    Mainan edukatif juga dapat meningkatkan cara berfikir anak
    Mainan edukatif juga dapat meningkatkan rasa percaya diri anak
    Mainan edukatif juga dapat merangsang imajinasi anak
    Membentuk moralitas anak dan mengembangkan sifat sosial anak

Mendidik anak adalah kewajiban bagi semua orang. Mendidik anak dengan mainan edukatif adalah salah satu cara dari orang tua. Dimana orang tua dapat memilihkan jenis mainan yang dapat merangsang dan mendorong tumbuh kembang anak. Apakah Anda salah satu orang tua yang tertarik dengan cara ini? Ayo buktikan sendiri dan Anda siap dapat kejutan dari anak dengan kreatifitasnya.


Editor : Dian Sukmawati

JAKARTA, Saco-Indonesia.com - Keberhasilan uji coba pembangkit listrik tenaga bayu atau angin di Yogyakarta mendorong pembanguna

JAKARTA, Saco-Indonesia.com - Keberhasilan uji coba pembangkit listrik tenaga bayu atau angin di Yogyakarta mendorong pembangunan pembangkit listrik skala komersial. Pembangkit itu akan dibangun di Pandansimo, Yogyakarta. Untuk itu, kini dilakukan pembebasan tanah.

Hal ini disampaikan Manajer Proyek Wind Hybrid Power Generation (WhyPGen) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Soeripno Martosapoetro, Rabu (8/5/2013), di Jakarta. Proyek yang bertujuan mendorong pemanfaatan energi angin untuk kelistrikan dilaksanakan Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) BPPT bekerja sama dengan Program Pembangunan PBB (UNDP) hingga 2015.

Menurut Soeripno, yang juga Ketua Masyarakat Energi Angin Indonesia, di daerah pantai sepanjang 8 km dari Samas hingga Pandansimo akan berdiri 34 unit menara setinggi 100 meter. Total daya yang dibangkitkan mencapai 50 kilowatt. Daya listrik itu nantinya masuk dalam jaringan PLN.

Menurut dia, pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) oleh UPC Renewable Indonesia yang berpusat di Kanada akan mengandalkan teknologi antara lain dari China dan Amerika Serikat.

Dua tahun terakhir, pertumbuhan industri turbin angin dunia mencapai 200 persen. Peningkatan ini untuk memenuhi kebutuhan pembangunan PLTB yang tahun lalu mencapai 240 gigawatt. Dari jumlah itu, 60 GW dibangkitkan di China. PLTB juga banyak di AS, Spanyol, dan Jerman. Indonesia di urutan ke-119, memiliki 2 megawatt. Dengan adanya PLTB berkapasitas 50 MW, urutan Indonesia akan naik ke posisi 60-70.

”Pemanfaatan energi terbarukani akan terus dikembangkan di Indonesia untuk menekan polusi udara,” kata Kepala Bidang Konversi Energi BPPT Edi Hilmawan. Penerapan PLTB juga diharapkan membuka lapangan kerja, termasuk pembuatan dan pengembangan teknologinya.

Dengan demikian, PLTB menjadi solusi kompetitif dibandingkan pembangkit listrik konvensional, terutama di daerah yang memiliki sumber daya energi lokal melimpah.

Sumber :Kompas Cetak
Editor :Liwon Mmaulana (galipat)

At the National Institutes of Health, Dr. Suzman’s signature accomplishment was the central role he played in creating a global network of surveys on aging.

From sea to shining sea, or at least from one side of the Hudson to the other, politicians you have barely heard of are being accused of wrongdoing. There were so many court proceedings involving public officials on Monday that it was hard to keep up.

In Newark, two underlings of Gov. Chris Christie were arraigned on charges that they were in on the truly deranged plot to block traffic leading onto the George Washington Bridge.

Ten miles away, in Lower Manhattan, Dean G. Skelos, the leader of the New York State Senate, and his son, Adam B. Skelos, were arrested by the Federal Bureau of Investigation on accusations of far more conventional political larceny, involving a job with a sewer company for the son and commissions on title insurance and bond work.

The younger man managed to receive a 150 percent pay increase from the sewer company even though, as he said on tape, he “literally knew nothing about water or, you know, any of that stuff,” according to a criminal complaint the United States attorney’s office filed.

The success of Adam Skelos, 32, was attributed by prosecutors to his father’s influence as the leader of the Senate and as a potentate among state Republicans. The indictment can also be read as one of those unfailingly sad tales of a father who cannot stop indulging a grown son. The senator himself is not alleged to have profited from the schemes, except by being relieved of the burden of underwriting Adam.

The bridge traffic caper is its own species of crazy; what distinguishes the charges against the two Skeloses is the apparent absence of a survival instinct. It is one thing not to know anything about water or that stuff. More remarkable, if true, is the fact that the sewer machinations continued even after the former New York Assembly speaker, Sheldon Silver, was charged in January with taking bribes disguised as fees.

It was by then common gossip in political and news media circles that Senator Skelos, a Republican, the counterpart in the Senate to Mr. Silver, a Democrat, in the Assembly, could be next in line for the criminal dock. “Stay tuned,” the United States attorney, Preet Bharara said, leaving not much to the imagination.

Even though the cat had been unmistakably belled, Skelos father and son continued to talk about how to advance the interests of the sewer company, though the son did begin to use a burner cellphone, the kind people pay for in cash, with no traceable contracts.

That was indeed prudent, as prosecutors had been wiretapping the cellphones of both men. But it would seem that the burner was of limited value, because by then the prosecutors had managed to secure the help of a business executive who agreed to record calls with the Skeloses. It would further seem that the business executive was more attentive to the perils of pending investigations than the politician.

Through the end of the New York State budget negotiations in March, the hopes of the younger Skelos rested on his father’s ability to devise legislation that would benefit the sewer company. That did not pan out. But Senator Skelos did boast that he had haggled with Gov. Andrew M. Cuomo, a Democrat, in a successful effort to raise a $150 million allocation for Long Island to $550 million, for what the budget called “transformative economic development projects.” It included money for the kind of work done by the sewer company.

The lawyer for Adam Skelos said he was not guilty and would win in court. Senator Skelos issued a ringing declaration that he was unequivocally innocent.

THIS was also the approach taken in New Jersey by Bill Baroni, a man of great presence and eloquence who stopped outside the federal courthouse to note that he had taken risks as a Republican by bucking his party to support paid family leave, medical marijuana and marriage equality. “I would never risk my career, my job, my reputation for something like this,” Mr. Baroni said. “I am an innocent man.”

The lawyer for his co-defendant, Bridget Anne Kelly, the former deputy chief of staff to Mr. Christie, a Republican, said that she would strongly rebut the charges.

Perhaps they had nothing to do with the lane closings. But neither Mr. Baroni nor Ms. Kelly addressed the question of why they did not return repeated calls from the mayor of Fort Lee, N.J., begging them to stop the traffic tie-ups, over three days.

That silence was a low moment. But perhaps New York hit bottom faster. Senator Skelos, the prosecutors charged, arranged to meet Long Island politicians at the wake of Wenjian Liu, a New York City police officer shot dead in December, to press for payments to the company employing his son.

Sometimes it seems as though for some people, the only thing to be ashamed of is shame itself.

Artikel lainnya »