Agen Umroh Murah di Aceh Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Umroh Murah di Aceh Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA.

Agen Umroh Murah di Aceh

Kali ini admin akan membagikan artikel mengenai Contoh Karya Ilmiah/Makalah tentang Efek Rumah Kaca. Semoga artikel ini, da

Kali ini admin akan membagikan artikel mengenai Contoh Karya Ilmiah/Makalah tentang Efek Rumah Kaca. Semoga artikel ini, dapat di gunakan dengan sebaik-baiknya. Dan semoga artikel ini dapat membantu mengerjakan Tugas Sekolah atau Kuliah teman-teman semuanya.
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
 
A.    Latar Belakang
       Sejak jaman purbakala sampai sekarang,manusia mengalami perubahan yang sangat pesat seiring berjalannya waktu,ilmu pengetahuan juga ikut berkembang.Manusia sebagai mahluk ciptaan Allah yang sangat sempurna mempunyai tugas untuk menjaga dan tetap melestarikan alam agar tidak punah.
        Keadaan permukaan bumi saat ini mengalami peningkatan suhu yang tidak seperti biasanya yang terjadi selama 100 tahun terakhir ini,salah satu penyebabnya adalah rumah kaca yang biasanya di gunakan untuk mengembangkan bunga,buah dan lain sebagainya,rumah kaca ini melindungi tanaman dari panas dan dingin secara berlebih sehingga banyak industri - industri menggunakan metode ini untuk meningkatkan penghasilannya.Tanpa mereka pikirkan seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya itu.
       Pemanasan global atau lebih sering disebut Global Warming tengah jadi buah bibir masyarakat saat ini khususnya di Indonesia dikarenakan di Indonesia juga mengalami perubahan iklim yang tidak menentu akibat dari pemanasan global tersebut.Banyak  dampak yang akan ditimbulkan oleh terjadinya pemanasan global.
 
       Oleh karena itu dalam karya ilmiah ini akan dibahas lebih lanjut tentang adakah efek yang di berikan oleh rumah kaca terhadap pemanasan global ? Apakah dampak yang ditimbulkan dari terjadinya pemanasan global ? Hasil- hasil penelitian yang dilakukan para ilmuwan tentang efek rumah kaca terhadap pemanasan global? Dan upaya apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global ini.Dengan mencari Informasi dan data-data yang dapat dipercaya melalui media seperti buku dan inernet.
                                                                                        
B.Rumusan Masalah
 
        Adapun rumasan masalah dalam penelitian ini yaitu :
1.      Adakah efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global ?
2.      Apa penyebab rumah kaca dapat mengakibatkan pemanasan global?
3.      Upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemanasan global di Bumi ?
 
C. Tujuan Penelitian
       Tujuan penelitian yang dilakukan yaitu mencakup :
1.        Untuk mengetahui apakah ada efek dari rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Untuk mengetahui penyebab dari efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pamanasan global.
3.        Untuk mengetahui upaya apa yang dapat di lakukan untuk mengurangi terjadinya pemasan global di Bumi.
 
D. Manfaat Penelitian
 
1.        Bagi penulis,penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai semua yang berhubungan dengan efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
2.        Bagi Pembaca,penelitian ini dapat memberikan pengetahuan mengenai efek rumah kaca terhadap pemananasan global.
3.         Bagi Para Ilmuwan yang meneliti,Penelitian ini dapat memberikan tambahan data-data atau pernyataan-pernyataan mengenai efek rumah kaca terhadap pemanasan global.
 
 
BAB II
LANDASAN TEORI
 
A. Pengertian-pengertian
     1. Efek Rumah Kaca
       Efek rumah kaca adalah proses penghangatan bumi karena adanya penyerapan sinar infra merah.Tanpa adanya efek ini suhu bumi akan turun sekitar 30° C.Sinar yang datang ke bumi sebanya 30 % dipantulkan dan sisanya digunakan untuk menghangatkan daratan,lautan dan atmosfer.efek rumah kaca terjadi karena bumi relatif transparan terhadap sinar tampak,namun sangat menyerap sinar infra merah sehingga bumi akan menghangat karena adanya penyerapan energi tersebut. Efek rumah kaca juga merupakan efek alamiah untuk menjaga temperature  permukaan Bumi pada suhu normal sekitar 30°C,atau kalau tidak ada ,maka tentu saja tidak akan ada kehidupan dimuka Bumi ini.
        
2.Pemanasan Global
        Pemanasan global yaitu bertambah panasnya atmosfer Bumi serta samudra selama beberapa dekade terakhir.Menurut penelitian suhu bumidi ketahui meningkat 0,6 kurang lebih 0,2 °C selama 20 Abad terakhir.
(Nur Farida 2009 :53) Mengatakan, bahwa pemanasan global yaitu disebut juga global warming ,istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan fenomena peningkatan suhu rata – rata atmosfer Bumi.Peningkatan suhu Bumi ini dianggap akan secara permanen mengubah iklim Bumi selamanya.
 
B. Dampak dari terjadinya Pemanasan Global
 
 
Editor by : OSHIMURA

- See more at: http://pbsstainmetro.blogspot.com/2014/02/contoh-karya-ilmiah-tentang-bahaya-efek.html#sthash.8nHxf7N3.dpuf

saco-indonesia.com,     Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang telah bersimbiosis dengan jenis tum

saco-indonesia.com,

    Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang telah bersimbiosis dengan jenis tumbuhan. Koloni karang yang dibentuk oleh ribuan hewan kecil (Polip). Dalam kebanyakan spesies, satu individu polip karang telah berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini telah memiliki bentuk yang unik dan warna yang beraneka rupa. Terumbu karang merupakan habitat bagi spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme.
     Keberadaan terumbu karang telah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi ekosistem laut. Selain telah menjadi penahan abrasi akibat gelombang laut sebelum menyapu pesisir, terumbu karang juga merupakan habitat yang sangat penting sebagai rumah ikan. Selain itu, keunikan terumbu karang telah menjadi keindahan tersendiri dan bermanfaat sebagai tujuan wisata atau lokasi olahraga selam, dan tentunya sebagai tempat penelitian.
     Kabupaten Ketapang yang telah memiliki lebih dari 200 km garis pantai, dan 41 pulau kecil telah memiliki potensi yang cukup baik bagi keberadaan terumbu karang. "Inilah yang kemudian telah menginspirasi para pegiat lingkungan yang tergabung dalam komunitas "Ketapang Biodiversity Keeping" (KBK), yang dulunya lebih dikenal sebagai Kawan Burung Ketapang untuk berkontribusi dalam upaya pelestarian terumbu karang di wilayah laut Kabupaten Ketapang!" kata Abdurahman Al Qadrie, Ketua KBK.
      Pemerintah Kabupaten Ketapang, dalam hal in Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Ketapang (DKP), dalam melalui Kabid Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K), sangat menaruh perhatian yang besar terhadap keberadaan dan kelestarian terumbu karang. Hal ini telah disampaikan oleh Kepala Bidang KP3K, Ir. Zamzani pada saat penulis berkunjung ke kantornya di Jalan Jendral Sudirman, Ketapang (12/11/2013). Menurut beliau, tindakan nyata yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini adalah dengan mengadakan kajian potensi bawah air laut. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk dapat memetakan lokasi keberadaan terumbu karang, tingkat keterancaman, dan langkah-langkah yang harus dilakukan kedepannya.
      "Prioritas utama kita adalah pulau-pulau kecil yang telah berpenghuni, karena terumbu karang akan mudah rentan terhadap kegiatan manusia!" tambahnya. Terumbu karang di sektar Pulau Bawal juga merupakan prioritas utama, mengingat di pulau ini juga terdapat aktivitas yang cukup besar dibanding Pulau Cempedak dan Pulau Sawi.
       "Sebagai rumah ikan yang telah menyediakan perlindungan dan sumber makanan bagi ikan, sudah barang tentu terumbu karang telah menjadi pendukung utama perkembangan populasi ikan di sekitarnya. Hal ini tentu juga menjadi penopang sumber pendapatan bagi nelayan laut. Semestinya lah kita harus menjaga dan melestarikan terumbu karang!" kata Junaidi, SP, anggota DPRD Kabupaten Ketapang yang menyempatkan diri melihat dari dekat kehidupan nelayan di Pulau Sawi dan Potensi terumbu karangnya. "Dan Pemerintah juga telah berupaya membantu masyarakat nelayan laut yang tidak memiliki terumbu karang di sekitar wilayah laut tangkapan mereka, yaitu dengan membuat rumpun-rumpun tempat ikan berlindung. Setidaknya kita telah membuat 2 rumpun yang berukuran besar atau yang diistilahkan dengan "Fish Apartment" yaitu di wilayah laut Pulau Cempedak dan wilayah laut Pagarmentimun, selain rumpun-rumpun kecil lainnya!" tambahnya.
      "Harapan kita adalah, bagaimana semua pihak dapat menyadari pentingnya keberadaan terumbu karang bagi kehidupan bawah laut dan manusia, kemudian serius dalam melakukan tindakan penjagaan dan pelestariannya!" tambah Abdurahman Al Qadrie.

  Beberapa aktivitas manusia yang dapat merusak terumbu karangadalah sebagai berikut:
·         membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air laut,
·   membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang,
·    pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan maka semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke laut,
·      penggunaan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan pada akhinya akan terbuang ke laut juga,
·    Membuang jangkar pada pesisir pantai secara tidak sengaja akan dapat merusak terumbu karang yang berada di bawahnya,
·         terdapatnya predator terumbu karang, seperti sejenis siput drupella,
·         penambangan,
·         pembangunan permukiman,
·         reklamasi pantai,
·         polusi,
·        penangkapan ikan dengan cara yang salah, seperti pemakaian bom ikan.


Editor : Dian Sukmawati

WASHINGTON — The former deputy director of the C.I.A. asserts in a forthcoming book that Republicans, in their eagerness to politicize the killing of the American ambassador to Libya, repeatedly distorted the agency’s analysis of events. But he also argues that the C.I.A. should get out of the business of providing “talking points” for administration officials in national security events that quickly become partisan, as happened after the Benghazi attack in 2012.

The official, Michael J. Morell, dismisses the allegation that the United States military and C.I.A. officers “were ordered to stand down and not come to the rescue of their comrades,” and he says there is “no evidence” to support the charge that “there was a conspiracy between C.I.A. and the White House to spin the Benghazi story in a way that would protect the political interests of the president and Secretary Clinton,” referring to the secretary of state at the time, Hillary Rodham Clinton.

But he also concludes that the White House itself embellished some of the talking points provided by the Central Intelligence Agency and had blocked him from sending an internal study of agency conclusions to Congress.

Photo
 
Michael J. Morell Credit Mark Wilson/Getty Images

“I finally did so without asking,” just before leaving government, he writes, and after the White House released internal emails to a committee investigating the State Department’s handling of the issue.

A lengthy congressional investigation remains underway, one that many Republicans hope to use against Mrs. Clinton in the 2016 election cycle.

In parts of the book, “The Great War of Our Time” (Twelve), Mr. Morell praises his C.I.A. colleagues for many successes in stopping terrorist attacks, but he is surprisingly critical of other C.I.A. failings — and those of the National Security Agency.

Soon after Mr. Morell retired in 2013 after 33 years in the agency, President Obama appointed him to a commission reviewing the actions of the National Security Agency after the disclosures of Edward J. Snowden, a former intelligence contractor who released classified documents about the government’s eavesdropping abilities. Mr. Morell writes that he was surprised by what he found.

Advertisement

“You would have thought that of all the government entities on the planet, the one least vulnerable to such grand theft would have been the N.S.A.,” he writes. “But it turned out that the N.S.A. had left itself vulnerable.”

He concludes that most Wall Street firms had better cybersecurity than the N.S.A. had when Mr. Snowden swept information from its systems in 2013. While he said he found himself “chagrined by how well the N.S.A. was doing” compared with the C.I.A. in stepping up its collection of data on intelligence targets, he also sensed that the N.S.A., which specializes in electronic spying, was operating without considering the implications of its methods.

“The N.S.A. had largely been collecting information because it could, not necessarily in all cases because it should,” he says.

The book is to be released next week.

Mr. Morell was a career analyst who rose through the ranks of the agency, and he ended up in the No. 2 post. He served as President George W. Bush’s personal intelligence briefer in the first months of his presidency — in those days, he could often be spotted at the Starbucks in Waco, Tex., catching up on his reading — and was with him in the schoolhouse in Florida on the morning of Sept. 11, 2001, when the Bush presidency changed in an instant.

Mr. Morell twice took over as acting C.I.A. director, first when Leon E. Panetta was appointed secretary of defense and then when retired Gen. David H. Petraeus resigned over an extramarital affair with his biographer, a relationship that included his handing her classified notes of his time as America’s best-known military commander.

Mr. Morell says he first learned of the affair from Mr. Petraeus only the night before he resigned, and just as the Benghazi events were turning into a political firestorm. While praising Mr. Petraeus, who had told his deputy “I am very lucky” to run the C.I.A., Mr. Morell writes that “the organization did not feel the same way about him.” The former general “created the impression through the tone of his voice and his body language that he did not want people to disagree with him (which was not true in my own interaction with him),” he says.

But it is his account of the Benghazi attacks — and how the C.I.A. was drawn into the debate over whether the Obama White House deliberately distorted its account of the death of Ambassador J. Christopher Stevens — that is bound to attract attention, at least partly because of its relevance to the coming presidential election. The initial assessments that the C.I.A. gave to the White House said demonstrations had preceded the attack. By the time analysts reversed their opinion, Susan E. Rice, now the national security adviser, had made a series of statements on Sunday talk shows describing the initial assessment. The controversy and other comments Ms. Rice made derailed Mr. Obama’s plan to appoint her as secretary of state.

The experience prompted Mr. Morell to write that the C.I.A. should stay out of the business of preparing talking points — especially on issues that are being seized upon for “political purposes.” He is critical of the State Department for not beefing up security in Libya for its diplomats, as the C.I.A., he said, did for its employees.

But he concludes that the assault in which the ambassador was killed took place “with little or no advance planning” and “was not well organized.” He says the attackers “did not appear to be looking for Americans to harm. They appeared intent on looting and conducting some vandalism,” setting fires that killed Mr. Stevens and a security official, Sean Smith.

Mr. Morell paints a picture of an agency that was struggling, largely unsuccessfully, to understand dynamics in the Middle East and North Africa when the Arab Spring broke out in late 2011 in Tunisia. The agency’s analysts failed to see the forces of revolution coming — and then failed again, he writes, when they told Mr. Obama that the uprisings would undercut Al Qaeda by showing there was a democratic pathway to change.

“There is no good explanation for our not being able to see the pressures growing to dangerous levels across the region,” he writes. The agency had again relied too heavily “on a handful of strong leaders in the countries of concern to help us understand what was going on in the Arab street,” he says, and those leaders themselves were clueless.

Moreover, an agency that has always overvalued secretly gathered intelligence and undervalued “open source” material “was not doing enough to mine the wealth of information available through social media,” he writes. “We thought and told policy makers that this outburst of popular revolt would damage Al Qaeda by undermining the group’s narrative,” he writes.

Instead, weak governments in Egypt, and the absence of governance from Libya to Yemen, were “a boon to Islamic extremists across both the Middle East and North Africa.”

Mr. Morell is gentle about most of the politicians he dealt with — he expresses admiration for both Mr. Bush and Mr. Obama, though he accuses former Vice President Dick Cheney of deliberately implying a connection between Al Qaeda and Iraq that the C.I.A. had concluded probably did not exist. But when it comes to the events leading up to the Bush administration’s decision to go to war in Iraq, he is critical of his own agency.

Mr. Morell concludes that the Bush White House did not have to twist intelligence on Saddam Hussein’s alleged effort to rekindle the country’s work on weapons of mass destruction.

“The view that hard-liners in the Bush administration forced the intelligence community into its position on W.M.D. is just flat wrong,” he writes. “No one pushed. The analysts were already there and they had been there for years, long before Bush came to office.”

Pronovost, who played for the Red Wings, was not a prolific scorer, but he was a consummate team player with bruising checks and fearless bursts up the ice that could puncture a defense.

Artikel lainnya »