Agen Tiket Pesawat di Semarang

Agen Tiket Pesawat di Semarang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Semarang

Agen Tiket Pesawat di Surabaya

Agen Tiket Pesawat di Surabaya Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Surabaya

Agen Tiket Pesawat di Makasr

Agen Tiket Pesawat di Makasr Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Makasr

Agen Tiket Pesawat di Medan

Agen Tiket Pesawat di Medan Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Medan

Agen Tiket Pesawat di Aceh

Agen Tiket Pesawat di Aceh Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Aceh

Agen Tiket Pesawat di Padang

Agen Tiket Pesawat di Padang Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Padang

Agen Tiket Pesawat di Bogor

Agen Tiket Pesawat di Bogor Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Bogor

Batu hitam yang khusus diturunkan Allah SWT dari surga dinamakan Hajar Aswad. Batu itu terletak di sudut Kabah, tepatnya di ping

Batu hitam yang khusus diturunkan Allah SWT dari surga dinamakan Hajar Aswad. Batu itu terletak di sudut Kabah, tepatnya di pinggir pintu Kabah. Menyentuh Hajar Aswad, menciumnya, dan melambaikan tangan kepadanya adalah lambang kesetiaan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT. Itulah yang dilakukan jamaah haji saat tawaf di pelataran Kabah.

Zaman dahulu, di suku-suku Arab selalu mengikat perjanjian satu sama lain dengan diakhiri berjabat tangan atau bersalaman. Perjanjian atau kesepakatan itu biasanya untuk mendapatkan jaminan keselamatan selama mereka menempuh perjalanan di padang pasir yang luas, baik keselamatan dirinya sendiri maupun keselamatan barang dagangannya.

Jabat tangan itu merupakan kesepakatan dan kesetiaan. Sebagaimana bersalaman dalam perjanjian suku-suku Arab tersebut, lambaian tangan kepada Hajar Aswad sebenarnya merupakan cara lain untuk mengungkapkan kesetiaan manusia kepada Allah SWT.

Kesetiaan tersebut perlu ditunjukkan agar mereka mendapatkan jaminan keselamatan selama menempuh perjalanan dalam kehidupan di dunia ini. Dengan ‘bersalaman’ dengan Hajar Aswad berarti menusia telah sepenuhnya menggantungkan hidup dan keselamatannya kepada Allah SWT.

Sumber : Republika.co.id

Baca Artikel Lainnya : PERSYARATAN UMRAH

saco-indonesia.com, Cinta bagai seberkas cahaya dilangit Dan sinarnya kadang muncul digelapnya malam Seakan malu tuk isyara

saco-indonesia.com,

Cinta bagai seberkas cahaya dilangit
Dan sinarnya kadang muncul digelapnya malam
Seakan malu tuk isyaratkan sesuatu
Namun ku setia menunggu demi kaishku padamu

Raihlah wangi dunia
Berdua disisiku selamanya
Jelang hari indah
Kan wujudkan segala yang terpendam

Tiada satupun bisa
Memisahkan kisah kasih kita
Karena kita berdua
Telah berjanji sehidup semati
Selalu seutuhnya

Hidup adalah anugrah yang tak terhingga
Dan kita tercipta mungkin tuk selalu bersama
Jangan kau ragu tuk menyambutku menuju gerbang hatimu
Kan kubentangkan sayap-sayapku terbang bersama dirimu

Raihlah wangi dunia
Berdua disisiku selamanya
Jelang hari indah
Kan wujudkan segala yang terpendam

Tiada satupun bisa
Memisahkan kisah kasih kita
Karena kita berdua
Telah berjanji sehidup semati
Selalu seutuhnya

Selalu seutuhnya


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Obat Radang Tenggorokan Tradisional Paling Ampuh. Pernahkah anda merasakan rasa sakit pada tenggorokan, hal

saco-indonesia.com, Obat Radang Tenggorokan Tradisional Paling Ampuh. Pernahkah anda merasakan rasa sakit pada tenggorokan, hal ini telah menandakan adanya penyakit pada saluran pernafasan dan salah satu penyebabnya adalah radang tenggorokan. Radang tenggorokan juga sudah tentu sangat menganggu karena sangat terasa tidak nyaman, terlebih jika dibiarkan maka penyakit ini bisa menjadi penyakit yang serius. untuk itu disini saya akan memberikan cara membuat obat radang tenggorokan tradisional dengan bahan alami dan tradisional.

Obat Radang Tenggorokan

Radang tenggorokan ini juga bisa disebabkan oleh virus atau bakteri, disebabkan karena daya tahan yang lemah. Radang tenggorokan ini pada umumnya telah disebabkan oleh bakteri streptococcus. Kondisi ini telah menyebabkan tenggorokan mengalami iritasi, peradangan, suara serak, batuk, gatal dan terasa sakit saat menelan.

Ada beberapa gejala dan tanda tanda umum ketika orang mengalami radang tenggorokan, berikut adalah gejala radang tenggorokan.

Gejala Radang Tenggorokan

    Sakit kepala

    Ruam

    Badan terasa lelah

    Ada bintik-bintik merah kecil di bagian belakang atap mulut

    Kesulitan menelan, bahkan air liur sekalipun

    Kelenjar getah bening pada leher membengkak

    Tenggorokan terasa sakit

    Amandel membengkak dan berwarna merah. Terkadang ada bercak putih dan lapisan nanah pada amandel

    Demam tinggi, biasanya lebih dari 38,3 derajat Celcius (101 derajat Fahrenheit)

    Perut terasa sakit dan terkadang disertai dengan muntah


Nah diatas adalah gejala umum dari radang tenggorokan, jika anda mengalami gejala diatas ada kemungkinan anda sedang mengalami radang tenggorokan, lantas bagaiaman cara mengobatinya? berikut adalah obat radang tenggorokan tradisional yang terbukti ampuh.

Obat Radang Tenggorokan

1. Menghirup Uap Panas
Menghirup uap juga dapat mengobati radang tenggorokan. Caranya cukup mudah, taruh air panas dalam panci lalu letakkan di depan Anda. Pakailah handuk di kepala untuk mencegah uap menyebar. Hirup uap dari panci tak hanya melalui hidung tapi sesekali juga melalui mulut.


2. Campuran Madu dan Lemon
Cara membuatnya cukup mudah campurkan secangkir air hangat dengan 1 sendok makan lemon dan 1 sendok makan madu. campuran ini ampuh untuk dapat mengobati radang tenggorokan. namun jika anda kesulitan untuk mencari lemon anda bisa menggunakan satu sendok madu tanpa campuran air.


3. Daun Kemangi
Rebus daun kemangi dan minumlah air rebusannya. Atau cukup berkumur dengan air rebusan kemangi akan membuat sakit tenggorokan Anda membaik.


4. Teh jahe
Anda juga bisa menambahkan satu inci potong jahe yang telah dimemarkan kemudian rebus selama dua hingga menit. Lalu, campur dengan teh yang telah Anda buat sebelumnya.


5. Campuran Kunyit, Air, dan Garam
Ini adalah obat rumahan yang sangat efektif untuk dapat menghilangkan rasa sakit pada tenggorokan. Ditambah lagi, bahan-bahan yang diperlukan sangat mudah untuk dicari. Campurkan satu sendok teh garam dan sejumput kunyit dengan 200 ml air hangat kemudian berkumurlah beberapa kali sehari.


6. Bawang Putih
Bawang putih mengandung senyawa yang bernama allicin yang juga merupakan agen pembunuh bakteri. cobalah mengunyah bawang putih agar mengeluarkan senyawa allicin demi mengatasi radang tenggorokan.


7. Jus Buah Belimbing
Buah belimbing telah memiliki khasiat sebagai anti-radang yang bisa digunakan untuk dapat mengobati radang tenggorokan. Caranya ambil 100 gram buah belimbing manis, lalu dibuat jus dan diminum.

Nah demikianlah beberapa obat radang tenggorokan tradisional yang bisa dengan mudah anda buat. dan apabila anda atau keluarga mengalami radang tenggorokan, cobalah membuat obat radang tenggorokan dari bahan diatas. Semoga bermanfaat, Salam.


Editor : Dian sukmawati
sumber : Dropfamous.blogspot.com

saco-indonesia.com, Rudianto alias Bewok dan Muhamad Adifin, dua tahanan kasus narkoba Polres Jakarta Pusat telah melarikan diri

saco-indonesia.com, Rudianto alias Bewok dan Muhamad Adifin, dua tahanan kasus narkoba Polres Jakarta Pusat telah melarikan diri dari sel. Keduanya telah melarikan diri setelah berhasil menjebol dinding lubang angin.

"Tahanan tersebut kabur dengan cara menjebol dinding lubang angin, masuk ke lapangan olah raga dan memanjat tembok tahanan," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto dalam pesan singkatnya, Senin (30/12).

Rikwanto juga menjelaskan peristiwa tersebut telah terjadi pada dini hari tadi sekitar pukul 03.25 WIB. Polisi hingga kini masih harus memburu kedua tahanan itu.

Bewok yang telah diketahui merupakan warga Jalan Administrasi Negara I RT 08/07, Benhil, Tanah Abang. Sedangkan Adifin tinggal di Jalan Angke Indah RT 05/03 Angke Tambora, rumah kos No 1 lantai 3, Jelambar Baru Raya.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Telah terjadi baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah. Namun belum dapat diketahui identitas antar kelompok man

saco-indonesia.com, Telah terjadi baku tembak di Poso, Sulawesi Tengah. Namun belum dapat diketahui identitas antar kelompok mana yang telah melakukan kontak senjata tersebut.

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Soemarno juga telah membenarkan adanya peristiwa tersebut. Namun pihaknya juga belum memastikan secara pasti tentang adanya insiden itu.

"Iya benar, informasinya memang seperti itu. Ada baku tembak di Poso," kata Soemarno saat dihubungi wartawan, Rabu (6/2).

Menurut informasi yang telah dihimpun, baku tembak tersebut telah terjadi hari ini di Desa Padalembara, Poso.

Namun belum dapat diketahui secara pasti apakah penembakan tersebut telah melibatkan warga biasa ataupun militer.

Soemarno juga belum bisa memastikan apakah baku tembak itu terkait dengan jaringan teroris yang disinyalir masih bersembunyi di Poso.

"Iya ini masih kita lakukan pengecekan," ujarnya singkat.


Editor : Dian Sukmawati

saco-indonesia.com, Labu air sebenarnya merupakan buah namun lebih sering diolah menjadi menu sayuran. Selain kaya akan nutrisi,

saco-indonesia.com, Labu air sebenarnya merupakan buah namun lebih sering diolah menjadi menu sayuran. Selain kaya akan nutrisi, labu air juga bisa dikonsumsi jika ingin menurunkan berat badan. .

Rendah kalori
Labu air jugs sangat rendah kalori sehingga cocok untuk dikonsumsi bagi Anda yang berusaha untuk menurunkan berat badan. Bahkan dengan melakukan aktivitas santai, kalori dari makan labu air juga bisa dengan mudah terbakar.

Rendah karbohidrat
Beberapa orang yang berusaha untuk kurus juga terkadang harus menghindari konsumsi karbohidrat berlebihan. Sementara labu air adalah salah satu jenis makanan yang juga mengandung karbohidrat rendah. Maka dari itu makan labu air juga dapat membantu proses penurunan berat badan.

Rendah lemak
Labu air juga mengandung sedikit bahkan tidak mengandung lemak sama sekali. Tentu saja hal ini juga merupakan kabar baik bagi para pelaku diet yang ingin menurunkan berat badan. Sebab makanan berlemak memang cenderung membuat lingkar pinggang semakin melebar.

Kalsium
Labu air sebenarnya kaya akan vitamin dan mineral. Namun nutrisi paling penting yang terkandung di dalam labu air adalah kalsium. Makan labu air pun juga bisa jadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan kalsium harian.

Itulah berbagai cara labu air untuk menurunkan berat badan. Kabar baik lainnya, labu air juga mudah ditemukan di pasar atau supermarket dan harganya relatif terjangkau.

Editor : dian sukmawati

Pengerukan waduk alias normalisasi kali di bantaran sebelah barat Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, tengah dilakukan.

JAKARTA, Saco-Indonesia.com — Pengerukan waduk alias normalisasi kali di bantaran sebelah barat Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, tengah dilakukan. Sejauh ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengerahkan 10 ekskavator untuk mengerjakan proyek tersebut.

Ditemui, Jumat (31/5), Kepala Proyek Normalisasi Waduk Pluit Herianto mengatakan, kini pemfokusan normalisasi Waduk Pluit adalah pembuatan jalan inspeksi. "Yang penting bangunan yang sudah ditertibkan tidak akan dibangun lagi," kata Herianto.

Herianto menjelaskan, pihaknya tidak berencana menggusur warga yang berada di sisi timur bantaran Waduk Pluit, tanpa lebih dulu menyiapkan rumah susun untuk merelokasi warga. "Belum ada rusun sehingga belum ada penertiban bangunan," kata Herianto.

Kemudian, Herianto menambahkan, kini pihaknya tengah fokus mengeruk agar Waduk Pluit kelihatan sebagai tempat penampungan air. Untuk mengantisipasi bahaya keamanan, akan dipasang lampu penerangan di beberapa jalan inspeksi.

"Sekarang difokuskan pengerukan dan lampu penerangan agar kalau malam jadi tidak gelap," tuntasnya.

Sumber : Warta Kota/Kompas.com

Editor :Liwon Maulana

Hired in 1968, a year before their first season, Mr. Fanning spent 25 years with the team, managing them to their only playoff appearance in Canada.

A former member of the Boston Symphony Orchestra, Mr. Smedvig helped found the wide-ranging Empire Brass quintet.

Mr. Fox, known for his well-honed countrified voice, wrote about things dear to South Carolina and won over Yankee critics.

Since a white police officer, Darren Wilson fatally shot unarmed black teenager, Michael Brown, in a confrontation last August in Ferguson, Mo., there have been many other cases in which the police have shot and killed suspects, some of them unarmed. Mr. Brown's death set off protests throughout the country, pushing law enforcement into the spotlight and sparking a public debate on police tactics. Here is a selection of police shootings that have been reported by news organizations since Mr. Brown's death. In some cases, investigations are continuing.

Photo
 
 
The apartment complex northeast of Atlanta where Anthony Hill, 27, was fatally shot by a DeKalb County police officer. Credit Ben Gray/Atlanta Journal Constitution

Chamblee, Ga.

Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Frontline  An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.
Frontline

Frontline An installment of this PBS program looks at the effects of Ebola on Liberia and other countries, as well as the origins of the outbreak.

The program traces the outbreak to its origin, thought to be a tree full of bats in Guinea.

Review: ‘9-Man’ Is More Than a Game for Chinese-Americans

A variation of volleyball with nine men on each side is profiled Tuesday night on the World Channel in an absorbing documentary called “9-Man.”

Television

‘Hard Earned’ Documents the Plight of the Working Poor

“Hard Earned,” an Al Jazeera America series, follows five working-class families scrambling to stay ahead on limited incomes.

Imagine an elite professional services firm with a high-performing, workaholic culture. Everyone is expected to turn on a dime to serve a client, travel at a moment’s notice, and be available pretty much every evening and weekend. It can make for a grueling work life, but at the highest levels of accounting, law, investment banking and consulting firms, it is just the way things are.

Except for one dirty little secret: Some of the people ostensibly turning in those 80- or 90-hour workweeks, particularly men, may just be faking it.

Many of them were, at least, at one elite consulting firm studied by Erin Reid, a professor at Boston University’s Questrom School of Business. It’s impossible to know if what she learned at that unidentified consulting firm applies across the world of work more broadly. But her research, published in the academic journal Organization Science, offers a way to understand how the professional world differs between men and women, and some of the ways a hard-charging culture that emphasizes long hours above all can make some companies worse off.

Photo
 
Credit Peter Arkle

Ms. Reid interviewed more than 100 people in the American offices of a global consulting firm and had access to performance reviews and internal human resources documents. At the firm there was a strong culture around long hours and responding to clients promptly.

“When the client needs me to be somewhere, I just have to be there,” said one of the consultants Ms. Reid interviewed. “And if you can’t be there, it’s probably because you’ve got another client meeting at the same time. You know it’s tough to say I can’t be there because my son had a Cub Scout meeting.”

Some people fully embraced this culture and put in the long hours, and they tended to be top performers. Others openly pushed back against it, insisting upon lighter and more flexible work hours, or less travel; they were punished in their performance reviews.

The third group is most interesting. Some 31 percent of the men and 11 percent of the women whose records Ms. Reid examined managed to achieve the benefits of a more moderate work schedule without explicitly asking for it.

They made an effort to line up clients who were local, reducing the need for travel. When they skipped work to spend time with their children or spouse, they didn’t call attention to it. One team on which several members had small children agreed among themselves to cover for one another so that everyone could have more flexible hours.

A male junior manager described working to have repeat consulting engagements with a company near enough to his home that he could take care of it with day trips. “I try to head out by 5, get home at 5:30, have dinner, play with my daughter,” he said, adding that he generally kept weekend work down to two hours of catching up on email.

Despite the limited hours, he said: “I know what clients are expecting. So I deliver above that.” He received a high performance review and a promotion.

What is fascinating about the firm Ms. Reid studied is that these people, who in her terminology were “passing” as workaholics, received performance reviews that were as strong as their hyper-ambitious colleagues. For people who were good at faking it, there was no real damage done by their lighter workloads.

It calls to mind the episode of “Seinfeld” in which George Costanza leaves his car in the parking lot at Yankee Stadium, where he works, and gets a promotion because his boss sees the car and thinks he is getting to work earlier and staying later than anyone else. (The strategy goes awry for him, and is not recommended for any aspiring partners in a consulting firm.)

A second finding is that women, particularly those with young children, were much more likely to request greater flexibility through more formal means, such as returning from maternity leave with an explicitly reduced schedule. Men who requested a paternity leave seemed to be punished come review time, and so may have felt more need to take time to spend with their families through those unofficial methods.

The result of this is easy to see: Those specifically requesting a lighter workload, who were disproportionately women, suffered in their performance reviews; those who took a lighter workload more discreetly didn’t suffer. The maxim of “ask forgiveness, not permission” seemed to apply.

It would be dangerous to extrapolate too much from a study at one firm, but Ms. Reid said in an interview that since publishing a summary of her research in Harvard Business Review she has heard from people in a variety of industries describing the same dynamic.

High-octane professional service firms are that way for a reason, and no one would doubt that insane hours and lots of travel can be necessary if you’re a lawyer on the verge of a big trial, an accountant right before tax day or an investment banker advising on a huge merger.

But the fact that the consultants who quietly lightened their workload did just as well in their performance reviews as those who were truly working 80 or more hours a week suggests that in normal times, heavy workloads may be more about signaling devotion to a firm than really being more productive. The person working 80 hours isn’t necessarily serving clients any better than the person working 50.

In other words, maybe the real problem isn’t men faking greater devotion to their jobs. Maybe it’s that too many companies reward the wrong things, favoring the illusion of extraordinary effort over actual productivity.